Pangeran Mamduh bin Abdul Aziz Ali Saud, saudara Raja Abdullah bin Abdul Aziz, menuduh empat orang imam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, termasuk di antaranya Syaikh Saud Syuraim
Penulis dan wartawan Mesir, Sami Kamaluddin, dalam wawancara dengan Aljazeera Mubasyir Misr (12/5) mengecam sikap plin-plan Syaikh Al-Azhar, Ahmad Tayyib, yang dinilai sebagai bentuk ketakutan terhadap penguasa lalim dan tidak berpihak pada kebenaran.
Rasa empati seorang bocah terhadap kesulitan yang tengah dihadapi temannya, membuat Menteri Pendidikan Arab Saudi tergugah. Abdul Rahman Abdah diketahui memilih 'puasa' jajan demi membantu sang sahabat.
Dia rela menyimpan semua uang jajan dari orangtua untuk diamalkan ke temannya yang telah meninggal, akibat tenggelam di sebuah kolam renang.
Harian Al Riyadh menulis, selama dua minggu terakhir Abdul Rahman memilih menyimpan seluruh uang saku miliknya untuk disumbangkan. Apa yang dilakukan dia tidak ketahui orangtua dan teman-temannya.
Anak laki-laki ini merupakan siswa yang tengah menempuh pendidikan di sebuah sekolah kota Aflaj, sekitar 300 kilometer selatan ibu kota Riyadh.
Sikap mulia itu rupanya sampai ke telinga Menteri Pendidikan Saudi. Dia pun berencana menemui langsung si bocah dalam waktu dekat ini.
Sebelumnya, Kepala Distrik Pendidikan, Mohammad Mubarak Al Zayed telah memanggil Abdul dan memberikan hadiah ponsel sebagai bentuk apresiasi atas tindakan mulia tersebut. (Ervina Anggraini/dream)
Sebuah kisah mengharukan dialami seorang pasien Rumah Sakit King Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Dia terbaring lumpuh sendirian tanpa pernah dijenguk keluarga selama berbulan-bula
SEBUAH surat kabar Mesir dikabarkan telah memuji calon presiden Abdulfatah al-Sisi secara berlebihan. Bagaimana tidak, dalam sebuah catatan pojoknya, koran Mesir ini memuat sebuah catatan berjudul “al-Sisi Dua Kali Berjumpa Allah,” dengan disertai sebuah foto besar
Sumber dari partai salafi “an-Nur”, menyatakan bahwa sejumlah anggota partai di Bani Suef, selatan Kairo menyatakan mengundurkan diri pada dua pekan lalu, sebagai bentuk protes terhadap dukungan partai kepada mantan Menteri Pertahanan Abdul Fattah As-Sisi, ditengah bungkamnya
Tokoh utama kudeta di Mesir, Abdul Fatah As-Sisi, yang mencalonkan diri menjadi presiden menyatakan bahwa hubungan damai antara Mesir dan Israel sudah sampai pada level stabil (yang tidak perlu dipermasalahkan).
Hal tersebut disampaikan As-Sisi dalam wawancara dengan saluran TV berbahasa Arab, Sky News (12/5). Menurutnya, Israel sejauh ini juga tidak khawatir dengan penambahan kekuatan militer Mesir di Semenanjung Sinai (yang berbatasan langsung dengan Israel.
As-Sisi menyatakan bahwa Israel memahami penambahan jumlah pasukan militer Mesir di kawasan tersebut untuk memerangi kelompok pemberontak bukan untuk berkonfrontasi dengan Israel.
Dalam kesempatan tersebut, As-Sisi juga menegaskan bahwa jika menjadi Presiden Mesir maka dirinya akan menjadi pemimpin tertinggi yang bertanggung jawab untuk urusan agama, etik, dan dasar-dasar bernegara.
Menurutnya, tidak akan ada lagi istilah pemimpin agama (qiyadat diniyah) nantinya, tanpa menjelaskan maksud pernyataannya tersebut. (islammemo/rem/dakwatuna)
Syeikh Yusuf al-Qardhawi mengatakan pada hari Minggu bahwa mantan panglima militer Mesir yang mencalonkan diri jadi presiden yakni Abdel Fattah al-Sisi, hanya akan membawa kejatuhan ke negara itu.
Syeikh Qardhawi mengatakan bahwa para pemimpin Israel mendukung Sisi untuk memenangkan pemilihan presiden mendatang. Dia juga menambahkan bahwa Sisi melindungi kepentingan Israel dan tidak akan bermasalah dengan Israel atas isu Palestina.
"Anda lihat orang-orang seperti Ehud Barak (Menteri Pertahanan Israel), dia mengatakan, Pilih Sisi, Sisi adalah orang kami, dia dipihak kami tidak dipihakmu," kata Qaradhawi pada Ahad malam di sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh asosiasi ulama Muslim di Doha, Qatar, demikian lansir worldbulletin.net.
Sisi diperkirakan dengan mudah memenangkan pemilihan presiden pada 26-27 Mei. Satu-satunya kandidat lainnya adalah politisi sayap kiri Hamdeen Sabahi, yang menempati peringkat ketiga dalam pemilu 2012 yang dimenangkan oleh Mursi. "Saat ia (Sisi) datang, semua yang kita lihat adalah pembunuhan dan pertumpahan darah, penahanan dan perempuan yang diperkosa," kata Qardhawi. "Mesir kehilangan segalanya saudara-saudaraku, ini adalah bencana besar," tambahnya.
Abdel Fattah al-Sisi, seorang jendral pada saat Mursi berkuasa, melakukan kudeta militer untuk melengserkan Mursi. Ia kemudian memenjarakan Mursi dan tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin yang lain. Dia juga memerintahkan aparat keamanan bertindak keras terhadap pendukung aktivis Islam pendukung Mursi dan anggota Ikhwanul Muslimin, dengan melakukan penembakan pada para demonstran di Lapangan Rabaa Aladawiyah, Kairo. Ratusan bahkan diperkirakan ribuan orang telah meninggal karena keberingasan Sisi.
Para aktivis Mesir penentang kudeta yang bermukim di Amerika Serikat gencar mengkampanyekan boikot Pilpres Kudeta Mesir yang diselenggarakan pada 26-27 Mei ini (khusus untuk wilayah luar negeri akan dilaksanakan pada Kamis (15/5) dan Minggu (18/5) mendatang.
Ikut serta dalam kampanye tersebut tiga LSM Mesir-AS, yaitu: Yayasan Revolusi Mesir (Jam’iyah Misr Ats-Tsaurah), Lembaga Mesir-AS untuk Demokrasi dan HAM (Al-Muassasah Al-Misriyah Al-Amrikiyah lil Dimukratiyah wal Huquqil Insaan), dan Pusat Hubungan Mesir-AS (Markaz Al-‘Ilaqat Al-Misriyah wal Amrikiyah).
Salah seorang aktivis Pusat Hubungan Mesir-AS, Amin Mahmud, menyatakan bahwa pihaknya mengimbau rakyat Mesir untuk memboikot pemilu kudeta ini karena tidak akan mendukung demokratisasi.
Kedua capres kudeta, baik Abdul Fatah As-Sisi maupun Hamden Shabahi, dianggap tidak berpihak pada upaya penegakan HAM, demokrasi, dan kemerdekaan yang hakiki.
Sementara Wakil Ketua Lembaga Mesir-AS untuk Demokrasi dan HAM, Ahmad Syahatah, menegaskan bahwa pihaknya meyakini peristiwa 3 Juli 2013 sebagai kudeta militer berdarah.
Sikapnya satu dalam menghadapi kudeta yaitu akan memboikot pemilu karena keikutsertaan di dalamnya merupakan pengakuan secara tidak langsung terhadap (legalitas) kudeta.
Syahatah menyatakan gerakan kampanye boikot pemilu di luar negeri sudah diluncurkan sejak Februari 2014 dengan tujuan menggalang dukungan rakyat Mesir yang tinggal di luar negeri, khususnya Amerika Serikat dan Eropa. (islammemo/rem/dakwatuna)
Tidak cukup dengan menjatuhkan hukuman mati kepada Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin (IM) dan ratusan anggota IM lainnya, pemerintah kudeta di Mesir mulai membidik harta kekayaan gerakan Islam terbesar di dunia tersebut.
Komite khusus pemerintah kudeta Mesir yang dipimpin Izzat Khamis mengumumkan bahwa pihaknya mengambil alih harta kekayaan 30 petinggi Ikhwanul Muslimin, 12 yayasan sosial IM, dan 6 perusahaan pribadi yang dimiliki petinggi IM.
Keputusan penyitaan dan pengambilalihan harta kekayaan, baik pribadi maupun organisasi IM, telah berulang kali dilakukan pemerintah kudeta sejak September 2013 lalu, di samping upaya-upaya meneror aktivis IM dengan aksi penangkapan, pemenjaraan, dan hukuman pidana seperti hukuman mati.
Meskipun demikian, berbagai langkah pemerintah kudeta tersebut tidak mampu mematikan langkah IM untuk terus mengobarkan revolusi menentang Abdul Fatah As-Sisi dan seluruh pendukungnya.
Aksi-aksi demonstrasi tetap berlangsung di berbagai daerah yang dilakukan pada malam hari dan setelah shalat subuh yang dilakukan secara spontan (flashmob). (islammemo/rem/dakwatuna)